MOTIVASI



KATA-KATA MUTIARA BIJAK
kata-kata bijak


Setiap orang seharusnya melakukan 2 hal dengan kesungguh-sungguhan : mengerjakan hal yang sangat ia sukai, dan mengerjakan hal yang sangat ia benci.

Kemarahan adalah keadaan dimana lidah bekerja lebih cepat daripada pikiran, dan tindakan lebih cepat dari nurani.

Tak ada yang mampu mengubah masa lalu, tapi anda dapat merusak masa depan dengan menangisi masa lalu dan merisaukan masa depan.

Kekayaan sejati tidak diukur dari seberapa banyak investasi yang dia lakukan untuk memperoleh uang, tetapi seberapa besar investasi yang dia lakukan untuk memperoleh akhirat.

Senyum adalah anugrah Tuhan bagi setiap manusia yang mengandung cahaya kebaikan dan kesucian, membawa kedamaian bagi yang melihat, dan menumbuhkan welas asih bagi yang memberi. Maka tersenyumlah kepada semua orang.

Lebih mudah untuk melawan ribuan orang bersenjata lengkap dibandingkan melawan kesombongan diri sendiri.

Apa yang anda lakukan hari ini, merupakan kunci kebaikan ataupun juga kehancuran hari esok anda. Lakukanlah yang terbaik untuk hari ini.

Betapa sulitnya manusia bersyukur atas nafas yang masih berhembus di badan. Namun betapa mudahnya manusia mengeluh hanya karena kakinya menginjak kotoran.

Apapun yang terjadi pada anda esok hari itu karena apa yang anda lakukan hari ini.

Tuhan tidak menurunkan takdir begitu saja. Tuhan memberikan takdir sesuai dengan apa yang kita lakukan. Jika kita maju dan berusaha, Tuhan akan memberikan takdir kesuksesan. Jika kita lengah dan malas, maka Tuhan akan memberikan takdir kegagalan.

Kepada orang bodoh sekalipun TUHAN mengirimkan keberuntungan, kepada orang gila sekalipun TUHAN memberikan rejeki kehidupan.

Saat kita menatap ke belakang sesungguhnya kita telah tertinggal dengan orang yang merangkak ke depan. Sesungguhnya masa lalu adalah guru bagi kita untuk menatap dan membangun masa depan.

Hal tersulit dalam kehidupan ini bukanlah untuk melampaui orang lain, tetapi melampaui ego dan diri kita sendiri.

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.

Duri dalam kaki sulit ditemukan, Apalagi duri dalam hati. Jika ada orang yang melihat duri di hatinya, mana mungkin kesedihan akan berkuasa?

Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang pasangan.Ada tangan kanan,ada tangan kiri.Ada yang pintar,ada yang bodoh.Jangan bilang kau tak pernah mengecap manisnya keberhasilan,jangan bilang kau gak pernah mengecap pahitnya kegagalan.Tapi biarlah semua seperti air mengalir dan lakukanlah yang terbaik didalam keseharianmu

Jika kamu takut melangkah, lihatlah bagaimana seorang bayi yang mencoba berjalan. Niscaya akan kau temukan, bahwa setiap manusia pasti akan jatuh. Hanya manusia terbaik lah yang mampu bangkit dari ke jatuhannya.

Tuhan adalah sebagaimana yang kamu pikirkan, Jika kau berpikir Tuhan itu Baik, maka Tuhan akan baik padamu. Namun jika kamu pikir Tuhan itu Buruk, maka Tuhan akan memperlakukan mu dengan Buruk.

Jika kamu tidak suka apa yang ada di sekeliling mu, ubahlah, setidaknya ubahlah dirimu sendiri. Ingat, kamu bukan sebatang pohon.

Manusia terbaik adalah yang selalu berusaha membuat orang lain senang. Lakukanlah walaupun kamu harus meninggalkan mereka dan sendirian.

Kelebihan kita adalah, kita mampu memulai, dan kita juga mampu untuk MENGAKHIRI.

Kita Selalu punya pilihan tiap hari. Tinggal kita memilih, memulai niat baik yang kemarin, ataukah menunggu dan mendapatkan rasa penyesalan besok.

Jika kamu melihat dunia, maka lihatlah kebawah, karena jika kau menengadah, maka yang kau dapatkan adalah sakit leher dan mata yang berkunang-kunang.

Hidup ibarat menaiki sepeda, agar tidak terjatuh dari sepeda dan menjaga keseimbangan, kita harus terus bergerak, dan mengayuhkan kaki.

Sebaik-baiknya perdagangan, adalah menjual amal baik untuk ditukarkan dengan surga.

Yang terbaik adalah : "Aku telah mencobanya", dan yang terburuk adalah : "Aku akan mencobanya"

Kadang kita lupa, bahwa untuk melihat diri kita, jalan terbaik adalah melalui mata orang lain.

Ingatlah, kepedihan kita hari ini akan terasa indah dan manis saat kita mengingatnya kelak.

Kumpulkanlah kesalahan saat ini, karena kelak kumpulan kesalahan yang bernama pengalaman itu akan membawamu kepada puncak ke suksesan.

Tuhan sebenarnya tengah bermain catur dengan kehidupan kita. Dia menggerakkan bidak-bidaknya bernama tantangan, cobaan dan godaan, kemudian duduk kembali melihat reaksi kita. Jadi buatlah langkah terbaik sebelum Tuhan memberi kita Skak Mat.

Perlakukanlah setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat yang tulus, meski mereka berlaku buruk padamu.lngatlah bahwa penghargaan pada orang lain bukan karena siapa mereka, tapi karena siapakah dirimu.

Burung Hantu dijadikan simbol kebijakan, karena Seekor burung hantu yang bijaksana duduk di sebatang dahan. Semakin banyak ia melihat, semakin sedikit ia berbicara. Semakin sedikit ia bicara, semakin banyak ia mendengar. Mengapa kita tidak mencoba menjadi seperti burung hantu yg bijaksana itu?

Berduka, berkabung dan menyesali tak kan pernah mampu mengubah keadaan. Hanya bergerak, melangkah dan berbuatlah yang bisa menggantikan kedukaan menjadi kebahagiaan.

Berbuatlah dan jalankan semua impianmu, karena sebenarnya dalam dirimu telah terdapat energi dan kemampuan untuk melakukan apapun.

Kesalahan kita yang paling buruk adalah terlalu sibuk mengamati dan mengurusi kesalahan orang lain.


Orang yang gagal selalu mencari jalan untuk menghindari kesulitan, sementara orang yang sukses selalu menerjang kesulitan untuk menggapai kesuksesan.

Sebenarnya kegagalan kita bukanlah karena adanya kesulitan yang menghambat langkah kita, Tetapi karena ketidak beranian untuk melawan rasa takut dalam diri.

Jadilah manusia yang pada saat kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tapi hanya kamu sendiri yang menangis. Dan pada saat kematianmu semua orang menangis sedih, tapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.

Bila kegagalan itu bagai hujan, dan keberhasilan bagaikan matahari, maka butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Anda bisa memiliki apa pun yang Anda inginkan, jika Anda mampu menghilangkan keyakinan bahwa anda tidak akan mendapatkan yang anda inginkan.

Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum anda miliki, maka Anda akan harus melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan.

Kebesaran Seseorang Tidak Terlihat Ketika Dia Berdiri Dan Memberi Perintah, tetapi ketika dia berdiri sama tinggi dengan orang lain, dan membantu orang lain untuk mencapai yang terbaik dari diri mereka.




Cerpen Hari Ibu

Sorotan mata itu telah kumiliki sejak enam bulan yang lalu. Sorotan dingin serta guratan wajah yang dialiri beban hidup. Aku sudah kasep dengan kedinginan itu. Sorotan yang melumpuhkan angan-anganku tentang kehangatan pemiliknya yang acapku temui bersama cincangan ubi.
Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh  federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.
Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu  kudekati.
“Dek, hari ini Riau Pos memuat pegumuman PBUD ‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Abang boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.
Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus.
“Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.
“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru  nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku.
“Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.”
“Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran.
“Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…” Teja menghujamkan telunjuknya tepat di nama Syarifudin.
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”
***
Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Arif lolos PBUD, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku nanti.”
Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”
Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.
***
Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Teja dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Teja begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Teja mengembangkan senyumannya.
Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.
“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.”
“Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling  dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Teja membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.
***
Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Teja hadir dengan teriakan ‘good luck my honey!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.
Hari  Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.
Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SMPTN bersama-sama.”
Aku segera bangkit mendengar ucapan Teja. “Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PBUD ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal.
Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.”
Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk.
***
Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.***

MAAFKAN AKU, BU..

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya
Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi
Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya
Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung
pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari
di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi
Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”
Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman
Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya
Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang
Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada
Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah
Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah
dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi,
dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng
Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata
Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anakny.

IZINKAN AKU MEMANGGILMU AYAH

Di zaman yang serba modern dengan banyak hal yang terkesan mudah dan praktis, terselip sebuah kegundahan dari seorang politikus kelas atas yang namanya tertulis di antara sederetan nama wakil rakyat yang berkuasa. Dengan gaya yang perfeksionis dan cara bicara yang berwibawa, dia dikenal sebagai seorang politikus yang cerdas.
Keahlian dalam bidangnya tak cukup membuatnya menjadi pandai dalam mengungkapkan kasih kepada orang lain. Keadaan itu diawali ketika kematian sang istri yang membuatnya menjelma menjadi seorang pria dewasa yang dingin dan sedikit kasar. Terlebih lagi, Tuhan mengkaruniainya seorang putri tunggal yang harus dirawatnya sendiri semenjak kepergian mendiang istrinya.
Sepuluh tahun terlewati, sang anak tumbuh menjadi gadis pintar, sederhana tapi tampak begitu simpatik. Namun, semua itu tak  kunjung membuat sang politikus menaruh suatu kebanggaan layaknya seorang ayah terhadap anaknya. Kehidupan penuh kemewahan dan kehormatan ala pejabat kelas atas negeri ini rupanya telah membutakan hatinya. Kematian sang istri karena melahirkan anaknya dan kelumpuhan permanen pada kaki kiri sang anak yang dianggapnya sebuah aib telah menimbulkan ketidaksenangan sang politikus terhadap sang anak.
Setahun berikutnya, semua masih tampak baik-baik saja. Namun, kenyataan itu tak lagi sama ketika sebuah acara amal diselenggarakan di rumah mewah milik sang politikus. Berbagai lapisan masyarakat turut menghadiri acara tersebut, tak terkecuali wartawan yang datang untuk meliput.
Tanpa disadari, keberadaan seorang gadis lumpuh di rumah sang politikus cukup menyita perhatian publik. Wartawan mulai mencium fakta bahwa gadis tersebut tak lain adalah putri tunggal dari sang politikus. Karena malu dengan keadaan sang anak, dia pun membantahnya yang menimbulkan luka mendalam bagi sang anak.
“Kau pasti tahu betapa baiknya reputasiku di mata publik. Dan kau pun tahu betapa susahnya aku mendapatkan semua ini. Aku tak ingin keadaanmu mengacaukan segalanya. Jadi, aku minta padamu, jangan katakan pada orang lain bahwa kau adalah anakku. Aku yakin kau pasti mengerti hal ini.” kata sang politikus sedikit kasar.
Sang anak hanya mampu terdiam. Kata-kata itu bagai petir di tengah hari yang dibarengi hujan air mata. Kata-kata yang tak seharusnya di dengar oleh anak seusiannya. Dia hanya mematung, menangis tanpa suara. Sang politikus pun tak sanggup lagi berkata. Mereka tak beranjak dari tempat selama beberapa saat, hingga salah satu dari mereka mendahului pergi dalam keadaan yang masih tetap saling membisu.
Pada lusa setelahnya, sang anak dengan  ekspresinya yang nampak sedikit berbeda berjalan gontai menuju sang politikus. Dia memberanikan diri menemuinya untuk mengutarakan sesuatu.
“Tuan, sejak sebelas tahun yang lalu akulah saksi perjuanganmu hingga sekarang aku bisa melihatmu sebagai sosok politikus yang amat disegani. Selama sebelas tahun pula kau membesarkanku dan mengajariku tentang budi pekerti.  Aku tahu semua itu tak mudah bagimu setelah kelahiranku yang menjadi sebab kepergian ibu. Aku mengerti akan semua kata-katamu itu. Sebagai salah satu bentuk balas budiku, aku mau penuhi permintaanmu. Aku tak akan mengatakan bahwa aku adalah putrimu.” kata sang anak terbata.
“Tak sia-sia aku mengajarimu selama ini. Baguslah jika kau mengerti.” balas sang politikus. Setiap kali dan berkali-kali hanya senyum palsu yang ia berikan sebagai sebuah penghargaan atas kesediaan sang anak.
“Kini, kau telah saksikan kesungguhanku untuk membalas budimu. Maukah Tuan penuhi satu permintaanku?”
Sempat muncul kekhawatiran di hati sang politikus jika sang anak akan meminta harta yang banyak atau sejenisnya. Namun, akhirnya dia menyetujui karena dirasa tak ada hal lain lagi yang lebih baik.
“Oh, kenapa tidak? katakan saja.”
“Tuan, aku tak akan meminta uangmu. Aku pun tak akan meminta fasilitas mewahmu. Aku hanya ingin kau mengizinkanku menggunduli rambutku.”
Sang politikus terhenyak. Kata-kata yang barusan di dengarnya seperti listrik yang tiba-tiba menyengat dan membuatnya mati tergoda tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan seperti ending dalam sinetron.
“Apa kau sudah tidak waras? Kau wanita. Apakah kau ingin membuatku lebih malu? Bisakah kau sedikit memakai logikamu?” bentak sang politikus.
“Tuan, Kau telah berjanji. Aku yakin politikus sepertimu pasti lebih mengerti bahwa menepati janji merupakan hal yang wajib.”
Sang politikus terdiam. Jika dia menuruti permintaan sang anak, maka dia akan malu karena memiliki anggota keluarga yang berpenampilan tak semestinya. Tapi jika dia tak menurutinya maka martabatnya akan jatuh di depan sang anak karena selama ini dialah yang sering mengajarkan sang anak tentang pentingnya menepati janji. Akhirnya, dengan terpaksa, dia pun menurutinya.
“Baiklah jika itu maumu.”
Dua minggu berjalan baik-baik saja, sebelum para tetangga mulai menggunjing dan menghina keadaan sang anak. Kenyataan ini membuat kemarahan sang politikus semakin memuncak.
“Kau! Apa maumu sebenarnya? Kau mau membuatku malu di depan para tetangga?” bentak sang politikus.
“Tidak, Tuan. Tapi…”
“Ahh. Sudah. Tak perlu banyak alasan. Kau sudah sering merepotkanku. Mulai sekarang tak ku izinkan kau memakai fasilitas kendaraanku.” katanya dengan nada tinggi yang menggelegar dan nyaris memecahkan gendang telinga.
Tanpa berpikir panjang, dia bergegas pergi dengan amarah yang tak kunjung mereda, meninggalkan sang anak yang terdiam mematung.
Tak seperti sebelumnya, sang anak bangun lebih pagi dari biasanya. Diambilnya fasilitas kendaraan membuat sang anak harus berjalan kaki ke sekolah. Setiap hari dia harus mengambil rute melintasi daerah tanah berbatu sejauh 3 km dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya, tempat banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. Kelumpuhan pada kakinya seolah mengesankan bahwa perjalanan itu adalah perjalanan ribuan mil yang amat menyiksa. Sering kali dia merasakan nyeri yang terkadang memaksanya harus berhenti di tengah perjalanan walau tak ada satupun keluhan yang terucap darinya.
Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, sang anak selalu menyempatkan mampir ke sebuah bangunan putih di ujung jalan. Dengan ekspresinya yang khas, dia berjalan sembari menyeret kaki kirinya yang dibiarkan akrab dengan tanah, beringsut mendekati pilar selatan pintu gerbang di depannya dan mematung. Selang beberapa waktu, seorang bocah berbaju hijau yang khas perlahan membuka ujung pintu gerbang, memberikan sebuah isyarat dan membiarkan sang anak masuk tanpa sedikitpun kata yang terucap.
Bocah itu bergegas melangkah mendahului sang anak dan berhenti tepat di antara sekumpulan anak kecil yang terlihat tak berbeda. Mata mereka saling menyapa, membentuk suatu pertautan interaksi yang tak tergambarkan.
“Seperti janjiku. Hari ini aku datang lagi menemuimu. Aku membawa banyak cerita yang telah ku janjikan padamu. Sekarang kita terlihat tak berbeda. Dan kau harus yakin bahwa kau tak pernah sendiri.” kata sang anak.
Bocah berbaju hijau itu tersenyum. Senyum paling ikhlas yang pernah diberikannya. Wajahnya berseri, manis sekali.
“Aku selalu ingin mendengar ceritamu. Tapi kali ini, aku ingin menunjukkanmu sesuatu. Ayo ikut aku.” kata bocah itu ramah.
Kedua bocah itu berjalan bergandengan memasuki rumah dengan cat serba putih bagaikan dua malaikat yang saling bersahabat. Tibalah mereka di suatu tempat di belakang bangunan serba putih itu. Sebuah taman bunga sederhana yang tampak luar biasa.  Beberapa kelinci dan kupu-kupu hidup bebas di sana.
“Ini taman kami. Saat kau meninggalkanku ke sekolah, kami biasa bermain di sini. Kau lihat dua ayunan itu?” kata bocah berbaju hijau.
Sang anak melihat ke arah ayunan di tengah taman. Lalu memalingkan pandangan ke arah bocah berbaju hijau dan menyipitkan mata tanda mengiyakan.
“Di sana kami biasa berdoa. Kami berlatih bercerita agar bisa jadi pencerita yang baik sepertimu. Dan Tuhan sangat baik, Dia selalu mau mendengarkan cerita kami. Sekarang giliranmu bercerita pada Tuhan. Ayo.” kata bocah berbaju hijau sambil mengedipkan mata, menggoda.
Sang anak melangkah perlahan menuju ayunan yang ditunjuk bocah berbaju hijau. Segera ia duduk di sana disusul dengan temannya itu. Dia pejamkan matanya, mengangkat kedua tangan dan mulai bicara.
“Tuhan, hari ini aku hanya mendapat dua potong kue untuk sarapan. Tiba-tiba kucingku mengeong kelaparan. Aku berikan sisa kue terakhirku. Tapi anehnya, aku jadi tidak lapar. Terimakasih untuk kuenya. Kau terlalu baik padaku.” sang anak berhenti bicara untuk beberapa saat dan kembali melanjutkan kalimatnya.
“Hari ini, aku kembali berjalan kaki. Aku tak mengerti, kaki kiriku akhir-akhir ini sering merasa sakit. Tapi, Kau tahu? Bibi di seberang jalan selalu membantuku. Dia amat baik. Biarkan dagangannya laris, Tuhan. Dan kuatkan aku.” lanjutnya sambil meneteskan air mata. “Tadi Ayah juga marah padaku. Tapi jangan marahi dia, Tuhan. Aku yang salah. Akulah yang terlalu menyebalkan.  Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Kau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Oh ya, sembuhkan temanku ini untukku. Izinkan aku tetap bisa bercerita padanya. Terimakasih Kau telah mendengarku.”
Sang anak mengakhiri kalimat dan membuka matanya. Ditatapnya wajah sang teman dan tersenyum. Bocah berbaju hijau itupun ikut tersenyum. Dia keluarkan dua buah kertas dan bolpoin yang ada di dalam tasnya dan memberikan salah satunya pada temannya itu.
“Untuk apa ini?” tanya sang anak.
“Besok Hari Ayah. Tidakkah kau ingin tuliskan sesuatu untuknya? Kau bisa menuliskan puisi yang bagus.” saran bocah berbaju hijau itu.
“Aku tak yakin Ayah akan menyukainya.”
“Aku selalu yakin padamu dan kau pun harus yakin padaku. Tulislah!”
Kedua anak itu mulai menulis. Mereka tampak sungguh-sungguh. Dua jam berlalu dan puisinya pun telah terseleseikan. Mereka berdua benar-benar senang. Mereka berlari, bermain dengan kelinci, tertawa, dan bercerita. Suatu kebahagiaan yang tak tergambarkan, seolah dunia ini adalah taman milik mereka berdua.
Esok harinya, orang-orang telah berkumpul di alun-alun kota. Telah menjadi kebiasaan bagi warga kota untuk merayakan hari ayah. Perayaan yang dihadiri Walikota itupun dihadiri pula oleh sang politikus. Mereka duduk bersebelahan. Di tengah-tengah acara, tampak seorang anak berbaju hijau yang akan membacakan puisinya. Kehadiran anak itu cukup mengejutkan. Rambutnya gundul, sama seperti anak sang politikus. Sang politikus berpikir bahwa rambut gundul mungkin trend zaman sekarang.
“Siapa anak yang ada di atas panggung itu, Pak? tanya sang politikus kepada walikota.
“Dia putriku. Sejak setahun lalu, dia divonis terkena leukimia karena itulah semua rambutnya rontok. Anak perempuan di rumah Anda sangat baik. Demi janjinya pada putriku, dia rela menggunduli rambutnya. Dia ingin putriku tak pernah merasa sendiri. Tiap hari dia juga sering menemani putriku di panti penyembuhan,  memberinya semangat hidup meski dia  juga tahu bahwa kemungkinan itu kecil. Dia mengajari kami bagaimana memaknai hidup dengan bersyukur. Saya salut dengannya.” jelas walikota panjang lebar.
Sang politikus hanya terdiam. Air matanya seolah ingin jatuh. Sebuah rasa bersalah yang teramat dalam seolah menusuk jantungnya dan mengahancurkannya berkeping-keping. Dia salah dalam menilai sang anak. Segera ia bergegas pergi menemui anak walikota.
“Nak, di mana putriku?”
“Tuan, Kau harus tahu, dia sangat menyayangimu. Dia sering menceritakan kebaikanmu padaku. Dia selalu menemaniku. Apakah kau tahu, perjalanan 3 km dengan keadaannya yang lumpuh itu benar-benar menyiksa? Tapi ajaran anda tentang budi lah yang selalu membuatnya bertahan. Dia begitu mengagumi Anda. Sekarang dia sedang mengambilkan bunga untuk Anda di ujung jalan itu sebagai hadiah Hari Ayah. Aku akan mengantarmu ke sana.” jawab anak walikota.
Mereka berdua bergegas pergi ke ujung jalan. Tampak beberapa orang ramai berkumpul di jalan itu.
“Ada apa ini, Tuan?” tanya sang politikus.
“Baru saja seorang anak pincang tertabrak mobil di sini saat akan menyeberang jalan. Sekarang dia sedang dibawa ke rumah sakit.” jawab salah seorang di antara warga.
Seketika tubuh sang politikus lemas. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa, hanya berharap anaknya selamat. Anak walikota itu menangis dan mereka berdua bergegas pergi ke rumah sakit.
Di ruang ICU, terbaring seorang anak yang tak asing lagi bagi mereka berdua. Mukanya sangat pucat. Banyak sekali alat mengerikan yang di pasang di tubuhnya. Sesekali tubuhnya tak terlihat karena terhalang oleh banyak dokter yang memeriksa.
:”Tuan, dia tak hanya ingin memberikanmu bunga tapi juga sebuah puisi yang dia tulis sendiri untukmu. Aku mohon padamu, sekali saja izinkan dia membacakan puisi itu untukmu dan memanggilmu Ayah di acara perayaan. Berikan dia kesempatan untuk merasakan kasih seorang Ayah. Kali ini saja.” pinta anak walikota.
Lagi-lagi sang politikus hanya mampu meneteskan air mata tanda penyesalan yang amat dalam. Namun, tak beberapa saat, sang anak tersadar dari komanya. Mukjizat Tuhan membuatnya pulih dalam waktu singkat, hingga ia mampu membacakan puisi buatanya untuk Sang Ayah.
Malam harinya, perayaan Hari Ayah masih berlangsung meriah. Sekaranglah giliran bagi sang anak untuk membacakan puisinya ditemani sahabatnya, anak walikota.
“Aku ingin membacakan sebuah puisi untuk ayahku yang telah membesarkanku sejak kecil. Sejak Ibu meninggal, dia adalah ayah sekaligus ibu bagiku. Puisi ini berjudul “AYAH NOMER SATU DI DUNIA”.
Semua orang mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Mereka dibuatnya merinding dengan puisi yang sederhana tapi nampak luar biasa karena sebuah ketulusan di dalamnya. Namun, di akhir pembacaan puisi itu, anak walikota tiba-tiba terjatuh dan tak sadarkan diri. Semua orang panik terlebih sang walikota.
“Tuhan, beri aku waktu sepuluh menit saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya.” kata sang anak dalam hati.
Anak walikota itu tersadar. Dia tersenyum dan memegang tangan sahabatnya.
“Aku tak pernah pergi karena kau selalu menemaniku. Aku selalu percaya padamu karena itu kau pun harus percaya padaku. Aku akan selalu mengawasimu bersama Tuhan. Terimakasih untuk 3 bulan terindah dan yang akan selalu indah untukku.” kata anak walikota lemah.
“Kau tahu, kau tak pernah sendiri. Aku menyayangimu. Kami semua amat menyayangimu.” jawab anak sang politikus sambil menahan  tangis.
Dua bocah gundul itu tersenyum bagai dua malaikat yang saling mengasihi. Teramat indah untuk digambarkan. Dan pada akhirnya, genggaman tangan mereka terlepas. Tak satupun dari pipi orang yang ada di sana kering menyaksikan sebuah kisah persahabatan sejati.